Featured Posts Coolbthemes

Sponsort

Adsense Two [468 x 60]

Prabowo Terbakar di BBC News

Ahad, 13 Julai 2014

14051189791941399603
(Sumber: http://www.smh.com.au/world/indonesia-election-prabowo-comes-out-swinging-in-votes-dispute-20140711-zt3mz.html)
Tampil dalam wawancara di BBC News, Prabowo seperti orang yang tidak berpijak pada kenyataan. Bukannya menjawab dengan fakta dan argumen rasional, Prabowo malah menjawab pertanyaan dengan tuduhan-tuduhan pada pihak Jokowi. Ketika ditanya soal hasil lembaga survey kredibel seperti CSIS, Kompas dan SMRC, Prabowo langsung menuduh semua lembaga ini sebagai partisan dan completely not objective. Walaupun mengkritik Jokowisebagai tidak menunggu hasil resmi KPUPrabowo sendiri mengklaim kemenangan dirinya dengan argumen data real count yang dipunyai pihaknya (tapi tak ditunjukkannya). Michael Bachelard dari The Sydney Morning Herald mencatat klaim hasil real count dari Hashim Djojohadikusumo, manajer kampanye Prabowo, bahwa pihaknya menang dengan 51,67% (43,9 juta suara untuk Prabowo dan 40,1 juta suara untuk Jokowi). Michael juga mencatat hasil real count dari pihak PDIP dengan 53,24% dukungan bagi Jokowi dari lebih 50% real count yang telah masuk.
Ditanya mengenai style Prabowo dibandingkan style Jokowi yang lebih merakyat, Prabowo langsung menyerang bahwa Jokowi hanya berlagak (act) rendah hati dan merakyat. Prabowo justru menuduh Jokowi murni sebagai produk pencitraan dan sesungguhnya adalah alat penguasa. Ketika ditanya tentang rekam jejaknya yang berlumuran masalah HAM, Prabowo mulai meninggi suaranya. Ketika ditanya mengapa hal itu tidak dapat pernah dijernihkan, Prabowo sekali lagi menuduh bahwa isu itu selalu muncul dari pihak lawan untuk merusak namanya.
Penampilan Prabowo di BBC News membongkar seluruh sikap kampanyenya sendiri. Dalam keseluruhan interview, tampak tak ada niat untuk mengklarifikasi klaim dengan data dan fakta. Justru di TV internasional netral yang tak mampu dikontrolnya ini, yang ada hanya jawaban yang berupa tuduhan kepada pihak Jokowi. Prabowo juga sesumbar untuk menyediakan 16 lembaga survey yang dapat memberikan hasil yang memihak kepadanya,seolah-olah dengan uang segala sesuatu dapat dibeli dan diciptakan. Sesumbar semacam ini justru dilakukan di tengah maraknya informasi tentangpermainan yang dilakukan di lembaga surveynya sendiri. Dan seperti tidak menghiraukan praktek yang menimbulkan banyak pertanyaan di kubunya, Prabowo terang-terangan menuduh pihak Jokowi yang berusaha memanipulasi hasil pemilu dengan “grand design” mereka.
Sama sekali tak tampak jiwa ksatria dan kenegarawan dari Prabowo dalam interview ini. Jawabannya selalu dipenuhi tuduhan pada lawan. Padahal ini baru sekadar proses pemilu. Bagaimana kalau misalnya Prabowo harus berdiplomasi dengan negara lain dalam kasus yang sulit? Apakah yang sudah terbiasa hanya mampu menjawab dengan tuduhan tanpa dasar mampu bersikap lain ketika kondisinya lebih genting dan lebih banyak yang dipertaruhkan?
Ketika didesak dengan pertanyaan, bagaimana kalau dia kalah? Prabowo menjawab keras, “What?! I am confident I win!” Sementara itu, bukan hanya pengamat dalam negeri yang menganggap hasil quick count sebenarnya sudah jelas untuk kemenangan Jokowi, analis luar negeri Edward Aspinall dan Marcus Mietzner juga menegaskan kemenangan Jokowi dalam tulisan mereka.“Let’s be clear about one thing: Joko Widodo (Jokowi) has won Indonesia’s 9 July presidential election. If the formal vote counting and tabulation process concludes without massive fraud, he will be sworn in as the country’s new president on 20 October of this year,” tulis mereka. Kalau tanpa kecurangan, Jokowi akan resmi menjadi presiden Indonesia. Sementara itu, ketiga lembaga survey yang memenangkan Prabowo tidak hadiri undangan perhimpunan lembaga survey (Persepsi) untuk mempresentasikan hasil survey mereka.
Dalam sebuah wawancara di ABC News, Prof. Edward Aspinall dari Australian National University mengatakan bahwa ada risiko nyata niat untuk pemalsuan suara. Aspinall mengatakan bahwa jika ada yang sengaja membuatkebingungan dengan hasil quick count palsu, maka itu hanya masuk akal jika memang ada niat untuk melakukan pemalsuan suara. Aspinall mengatakan bahwa walaupun KPU pusat cenderung bersih, banyak KPU cabang daerah yang perlu diawasi karena rentan pemalsuan dan suap. KPK sudah memperingatkan KPU dan Bawaslu untuk tidak main-main dalam pemilu kali ini. Namun, pengawasan oleh rakyat dan keaktifan untuk melaporkan berbagai temuan akan sangat-sangat diperlukan.
Prabowo tanpa malu menuduh pihak Jokowi-lah yang berusaha melakukan kecurangan pemilu dengan lembaga survey yang justru kredibilitasnya diakui secara internasional. Dan walaupun sering meneriakkan slogan anti-asing, tim kampanye Prabowo mengakui mempekerjakan konsultan politik asal Amerika Rob Allyn. Aspinall mencatat bahwa Rob Allyn mempunyai keahlian dalamnegative campaign dan dalam memproduksi hasil survey yang menunjukkan seolah calon yang lemah terlihat kompetitif. Jadi tampaknya justru pihak Prabowo yang mempunyai “grand design” lengkap untuk manipulasi hasil pemilu.
Banyak hal yang terpaksa harus dipelajari sekaligus oleh rakyat Indonesia dalam pilpres kali ini. Kita memang tidak mengira bahwa pemilu bisa sekotor ini. Kampanye hitam, TV tanpa etika dan bahkan survey palsu mungkin bukan kurikulum ideal dalam pembelajaran demokrasi kita. Namun kita tetap tidak boleh gagal belajar. Cukup sudah Islam dipakai untuk politisasi dan kepentingan kelompok. Cukup sudah kita impor cara-cara kampanye hitam asing. Cukup sudah bulan suci Ramadhan dikotori dengan berbagai ambisi dan kebohongan! Kita harus berani ambil sikap dan secara serius membenci kejahatan!
Saya tak berhenti kagum pada Jokowi yang tampil sederhana di Metro TV danbilang bahwa Prabowo sesungguhnya patriot bangsa yang akan menjunjung tinggi kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia. Jujur saja, saya tak bisa seyakin Jokowi. Kali ini saya benar-benar berharap Jokowi benar.

Read Post | ulasan

Isnin, 10 Februari 2014

Read Post | ulasan

Wali Negeri Syariah yang Tak Perlu (Bisa) Baca Al Quran

Rabu, 4 September 2013

Aceh sebagai satu-satunya daerah dalam republik ini yang berbasiskan pada syariah Islam, dimana semua sektor dan kapabilitas para pemangku jabatannya diharapkan mengerti dan paham landasan-landasan syariah yang diimplementasikan dalam qanun-qanun yang diterbitkan oleh lembaga legislatif lokal, ternyata mendapat pengecualian khusus terhadap qanun Wali Nanggroe yang baru saja disahkan awal November lalu.
1352773868525448876
Menurut Abdullah Saleh, poin membaca Al quran hanya akan menurunkan derajad dan wibawa sang Wali Nanggroe. Bagaimana menurut anda? (Foto diambil dari Antara online)
Menurut Abdullah Saleh anggota DPRA dari Fraksi Partai Aceh, menyatakan bahwa poin syarat bisa baca Alquran bisa merendahkan wibawa, kharisma dan gezah sang Wali Nanggroe, sehingga tidak elok bagi Wali Nanggroe untuk dites baca Alquran di depan khalayak ramai. Tes baca Alquran cukup tersebut secara implisit saja.Sungguh ironis. pernyataan ini keluar dari mulut seorang wakil rakyat Aceh yang mayoritas anggotanya merupakan Fraksi terbesar di legislatif lokal. Ketika semua rakyat Aceh berkomitmen bersama untuk membumikan Al quran di Tanah Rencong, justru seseorang dari Partai Lokal terbesar di Aceh menafikannya dengan alasan membaca alquran akan merendahkan wibawa seorang Wali Nanggroe. Bahkan Rasulullah SAW pun membaca Al quran. Jangan-jangan Fraksi Partai Aceh menganggap bahwa Wali Nanggroe berkedudukan lebih tinggi daripada RasulullahNaudzuubillah Min dzaliik.
Sejatinya, membaca dan memahami Al quran adalah kewajiban bagi semua umat muslim di dunia. Al quran adalah warisan terbesar Rasulullah yang tak lekang oleh jaman dan merupakan pedoman paling logis dari semua ilmu yang ada di dunia. Oleh karenanya, menjadi konsekuensi logis bagi setiap pemimpin muslim untuk mengerti dan memahaminya. Bukankah akan tampak luar biasa jika Al quran menjadi satu-satunya sumber ilmu pengetahuan Sang Wali? dan bukankah justru akan meningkatkan wibawa  Sang Wali jika beliau dapat membacanya dengan baik dan benar? kecuali apabila memang Sang Wali pilihan eks kombatan GAm ini memiliki kekawatiran bahwa dirinya tidak fasih membaca Al quran.
Setiap jabatan yang diemban oleh pemimpin selalu membawa konsekuensi logis yang menuntut integritas, kapabilitas dan moral yang tinggi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Al quran merupakan pedoman yang paling baik bagi setiap pemimpin muslim dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Oleh sebab itu, bagaimana mungkin negeri yang berjuluk Serambi Mekah dengan syariah Islam sebagai landasan adat dan budayanya tidak menjadikan Al quran sebagai syarat utama untuk dipahami oleh pemimpinnya? Penyesatan ini hanya terjadi di Aceh
Read Post | ulasan (1)

Gugat Belanda Korban Pembantaian Westerling Menang, Belanda Minta Maaf

Sabtu, 10 Ogos 2013


Den Haag | acehtraffic.com - Pemerintah Belanda menyatakan telah memberi kompensasi 10 janda korban pembantaian tentara Belanda yang dipimpin Raymond Pierre Paul Westerling di Sulawesi Selatan dalam kurun waktu 1946-1947.

Dalam pernyataan yang dirilis di Den Haag Kamis lalu, Belanda juga mengatakan akan meminta maaf secara terbuka atas kejahatan tersebut. 

"10 janda telah menerima kompensasi atas eksekusi yang dilakukan pada suami mereka oleh militer Belanda," demikian pernyataan Pemerintah Belanda seperti dimuat New Straits Times, 9 Agustus 2013. "Duta Besar Belanda, atas nama pemerintah, juga akan menyampaikan maaf secara terbuka." 

Ini adalah akhir dari perjuangan keluarga korban. Pada 20 Desember 2011 lalu, pengacara HAM, Liesbeth Zegveld mengatakan, para janda korban mencari keadilan atas kematian suami mereka. Menyusul vonis Pengadilan Den Haag yang memenangkan korban pembantaian Rawagede.

Gugatan perdata dilayangkan, sebab tak mungkin untuk mengajukan tuntutan pidana pada kasus yang terjadi jauh di masa lalu. 

"Kami sangat gembira dengan keputusan tersebut. Tapi ini hanya langkah awal dari sebuah proses besar: Belanda harus minta maaf atas segala pembantaian dan eksekusi tak sah yang dilakukan di Indonesia," kata Liesbeth Zegveld. "Tak segampang itu, hanya meminta maaf kasus per kasus."

"Para janda telah menerima uang, jumlah yang sama yang diberikan dalam kasus Rawaged," tambah Zegveld.

Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda Jeffry Pondaag mengatakan, negosiasi untuk menuntut ganti rugi janda korban Pembantaian Westerling sempat mandeg. Menurut Jeffry, kebuntuan tersebut akibat dari niat Pemerintah Belanda yang ingin membayar ganti rugi hanya 10 ribu Euro. 

"Itu penghinaan besar untuk Indonesia," kata Jeffry saat dihubungi, Jumat, 9 Agustus 2013. Menurut Jeffry, kebuntuan yang terjadi pada bulan April tersebut berakhir karena itikad baik dari Menteri Luar Negeri Belanda Frans Timmermans. Frans, kata Jeffry, menyatakan sangat menyesal atas Pembantaian Westerling dan berjanji untuk membicarakannya di kabinet.

Usai pembicaraan tersebut, Pemerintah Belanda menyetujui untuk menyelesaikan secepatnya kasus-kasus seperti rawagede dan Westerling. "Akhirnya, pengacara Belanda melanjutkan negosiasinya dengan pengacara kami," kata Jeffry. 

Sejak April hingga Agustus, kesepakatan yang dicapai hanya mengenai jumlah ganti rugi. Sedangkan untuk permintaan maaf, Pemerintah Belanda, masih merundingkannya. Menurut Jeffry, Frans dan Partai Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, Partai Volkpartij voor Vrijheiden Democratie masih berselisih pendapat. Frans setuju untuk meminta maaf keapda seluruh rakyat Indonesia, sedangkan Partai VVD merasa cukup meminta maaf kepada korban pembantaian.

"Seharusnya, pemerintah Belanda bangga punya menteri seperti Frans," kata Jeffry. Jeffry mengatakan, belum tahu pasti pemerintah Belanda akan meminta maaf dengan cara seperti apa. Namun Ia merasa gembira akhirnya ada menteri Belanda yang berani meneyelesaikan masalah ini.

Pada tahun 1946-1947 pasukan Belanda Depot Speciale Troepen pimpinan Raymon Westerling membunuh ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan. Pembunuhan tersebut terjadi selama operasi militer Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan). Sebanyak 40 ribu warga sipil, disebut-sebut menjadi korban pada peristiwa itu.


Kekejian Pasukan Westerling
Darah pernah tumpah di Makassar dan sekitarnya. Hanya setahun -- 1946 sampai 1947 tapi perilaku beringas Westerling dan para serdadunya meninggalkan sejarah kelam bagi masyarakat Sulsel. Sebanyak 40 ribu orang tewas dibantai, meski versi Belanda menyebut angka sekitar 3.000 . Sedangkan Westerling mengaku, korban 'hanya' 600 orang.

Dengan alasan mencari 'kaum ekstremis', 'perampok', 'penjahat', dan 'pembunuh' Westerling masuk ke kampung-kampung. Siapa yang dianggap berbahaya bagi Belanda, dibunuh.

Metodenya tak hanya menggunakan berondongan senapan. Dalam sebuah buku yang ditulis Horst H. Geerken, tak hanya menginstruksikan tembak tengkuk sebuah metode cepat dan mematikan untuk membunuh, komandan pasukan khusus Belanda itu juga menginstruksikan penggal kepala. 

"Ratusan karung sarat penggalan kepala dilarung ke laut untuk menghilangkan identitas," demikian isi buku Horst yang dikutip Indonesian Voices.

Westerling sendiri pernah mengakui perbuatannya itu. Pengakuan itu ia sampaikan dalam sebuah wawancara di sebuah program televisi di stasiun NCRV. "Akulah yang bertanggung jawab, bukan tentara di bawah komandoku. Aku sendiri, secara personal yang memutuskannya," kata dia dalam sebuah wawancara di tahun 1969, seperti dimuat situs Volkskrant, 14 Agustus 2012. 

Ketua Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (K.U.K.B.) juga berencana membantu para korban menggugat pemerintah Belanda melalui pengadilan. Menurut Pondaag, apa yang terjadi pada masa agresi 1945-1949 itu adalah kekerasan struktural, bukan sekadar insiden. Ia beranggapan meskipun sudah nyaris tujuh dekade berlalu, Belanda tetap harus bertanggung jawab. (Baca: Masih Ada 76 Kasus Kejahatan Perang Belanda di Indonesia)

Ia meminta para korban agresi dan ahli waris generasi pertama mencatatkan diri ke tiga perwakilan K.U.K.B. di Indonesia dan dua perwakilannya di Eropa. Jeffry mengingatkan lembaganya bersifat nirlaba dan tak menarik bayaran sama sekali, (kontak mereka). | AT | I | Liputan6 | Tempo.co |
Read Post | ulasan

Misteri Pembunuhan 99 Suami Di Malam Pertama Dengan Kelamin Beracun

Sabtu, 3 Ogos 2013


http://toelank.files.wordpress.com/2013/07/2ef04-putroeneng.jpg?w=640

NIAN Nio Lian Khie begitulah nama aslinya, Seorang komandan perang wanita berpangkat Jenderal dari china , Seorang perempuan yang dikalahkan oleh pasukan meurah johan seorang ulama yang berasal dari kerajaan pereulak yang pada saat itu mereka berada di indra purba yang bercocok tanam di daerah maprai (sibreh sekarang) dan mereka membuka kebun lada dan merica pada saat itu setelah dikalahkan, jenderal Nian Nio Lian Khie memeluk islam dan namanya diberi gelar yaitu sebagai PUTROE NENG.
Kekalahan dalam peperangan di Kuta Lingke telah mengubah sejarah hidup Putroe Neng, perempuan cantik dari Negeri Tiongkok. Dari seorang maharani yang ingin menyatukan sejumlah kerajaan di Pulau Ruja (Sumatera), ia malah menjadi permaisuri dalam sebuah pernikahan politis.
Pendiri kerajaan Darud Donya Aceh Darussalam, Sultan Meurah Johan, menjadi suami pertama Putroe Neng yang kemudian juga menjadi lelaki pertama yang meninggal di malam pertama. Tubuh Sultan Meurah Johan ditemukan membiru setelah melewati percintaan malam pertama yang selesai dalam waktu begitu cepat.
Sebagian masyarakat Aceh mendengar kisah Putroe Neng dari penuturan orang tua. Konon Putroe Neng memiliki 100 suami dari kalangan bangsawan Aceh. Setiap suami meninggal pada malam pertama ketika mereka bercinta, karena alat kewanitaan Putroe Neng mengandung racun.
Kematian demi kematian tidak menyurutkan niat para lelaki untuk memperistri perempuan itu. Padahal, tidak mudah bagi Putroe Neng untuk menerima pinangan setiap lelaki. Ia memberikan syarat berat seperti mahar yang tinggi atau pembagian wilayah kekuasaan (Ali Akbar, 1990).
Suami terakhir Putroe Neng adalah Syekh Syiah Hudam yang selamat melewati malam pertama dan malam-malam berikutnya. Ia adalah suami ke-100 dari perempuan cantik bermata sipit tersebut.
Sebelum bercinta dengan Putroe Neng, Syiah Hudam berhasil mengeluarkan bisa dari alat genital Putroe Neng. Racun tersebut dimasukkan ke dalam bambu dan dipotong menjadi dua bagian. “Satu bagian dibuang ke laut, dan bagian lainnya dibuang ke gunung,” tutur penjaga makam Putroe Neng, Cut Hasan.
Konon, Syiah Hudam memiliki mantra penawar racun sehingga ia bisa selamat. Setelah racun tersebut keluar, cahaya kecantikan Putroe Neng meredup. Sampai kematiannya, dia tidak mempunyai keturunan.
Sulit mencari referensi tentang Putroe Neng. Sejumlah buku menyebutkan dia bernama asli Nian Nio Liang Khie, seorang laksamana dari China yang datang ke Sumatera untuk menguasai sejumlah kerajaan.
Bersama pasukannya, ia berhasil menguasai tiga kerajaan kecil; Indra Patra, Indra Jaya, dan Indra Puri yang kini masuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar. Beberapa benteng bekas ketiga kerajaan tersebut masih ada di Aceh Besar sampai sekarang.
Namun, Laksamana Nian Nio kalah ketika hendak menaklukkan kerajaan Indra Purba yang meminta bantuan kepada Kerajaan Peureulak. Bantuan yang diberikan kerajaan Peureulak adalah pengiriman tentara yang tergabung dalam Laskar Syiah Hudam pimpinan Syekh Abdullah Kana’an.
Jadi, Syiah Hudam sesungguhnya adalah nama angkatan perang yang menjadi nama populer Abdullah Kana’an. Merujuk sejarah, pengiriman bala bantuan itu terjadi pada 1180 Masehi.
Bisa disimpulkan pada masa itulah Putroe Neng hidup, tetapi tak diketahui pasti kapan meninggal dan bagaimana sejarahnya sampai makamnya terdapat di Desa Blang Pulo, Lhokseumawe.
Meski tak bisa menunjukkan makamnya, di mata Cut Hasan kematian 99 suami Putroe Neng bukanlah mitos. Ia mengaku mengalami beberapa hal gaib selama menjadi penjaga makam.
Ia bermimpi berjumpa dengan Putroe Neng dan dalam mimpi itu diberikan dua keping emas. Paginya, Cut Hasan benar-benar menemukan dua keping emas berbentuk jajaran genjang dengan ukiran di setiap sisinya.
Satu keping dipinjam seorang peneliti dan belum dikembalikan. Sementara satu keping lagi masih disimpannya sampai sekarang.
Menurut budayawan Aceh, Syamsuddin Djalil alias Ayah Panton, kisah kematian 99 suami hanya legenda meski nama Putroe Neng memang ada. Menurutnya, kematian itu adalah tamsilan bahwa Putroe Neng sudah membunuh 99 lelaki dalam peperangan di Aceh.
“Sulit ditelusuri dari mana muncul kisah tentang kemaluan Putroe Neng mengandung racun,” ujar Syamsuddin Jalil saat ditemui di rumahnya di Kota Pantonlabu, Aceh Utara, Selasa (26/04.2013).
Ali Akbar yang banyak menulis buku sejarah Aceh, juga mengakui kisah kematian 99 lelaki itu hanyalah legenda.
Makam Putroe Neng yang terletak di pinggir Jalan Medan-Banda Aceh (trans-Sumatera), memang sarat dengan kisah gaib. Misalnya, ada kisah seorang guru SMA yang meninggal setelah mengambil foto di makam tersebut.
Ada juga yang mengaku melihat siluet putih dalam foto tersebut atau foto yang diambil tidak memperlihatkan gambar apa pun.
Sayangnya, berbagai kisah gaib itu, plus legenda kematian 99 suami Putroe Neng pada malam pertama, tidak menjadikan makam tersebut menjadi lokasi wisata religi sebagaimana makam Sultan Malikussaleh di Desa Beuringen kecamata Samudera, Aceh Utara.
Pemerintah Kota Lhokseumawe belum menjadikan makam Putroe Neng sebagai lokasi kunjungan wisata.
Suvenir tentang Putroe Neng tidak ada sama sekali. Para pengunjung yang datang ke makamnya hanya sebatas peneliti dan segelintir masyarakat yang pernah mendengar kisah Putroe Neng. Rendahnya kepedulian terhadap makam Putroe Neng, bisa terlihat dari kondisi makam tersebut yang nyaris tak terawat.
Di dalam komplek berukuran sekitar 20 x 20 meter tersebut, terdapat 11 makam, termasuk milik Putroe Neng tetapi selebihnya tidak diketahui milik siapa.
Menurut Teungku Taqiyuddin, seorang peneliti yang getol menggali sejarah kerajaan Samudera Pasai, dari tulisan yang terdapat di batu nisan, diyakini makam-makam tersebut milik ulama syiah. Lantas, benarkah makam yang selama ini diyakini milik Putroe Neng sahih adanya?
Teungku Taqiyuddin mengaku belum mendapatkan jawaban sehingga keyakinan masyarakat tentang kebenaran makam tersebut belum bisa dipatahkan. “Siapa tahu dengan banyaknya penelitian nanti akan terjawab,” kata Teungku Taqiyuddin.
Menurutnya, bisa jadi karena ada makam Putroe Neng di sana, kemudian berkermbang cerita tentang kematian 99 suami atau bisa saja kisah itu sudah melegenda sejak lama. Sekitar 200 meter arah selatan makam Putroe Neng, terdapat makam suami ke-100, Syiah Hudam yang terletak di atas bukit perbukitan.
Jalan menuju Makam Syiah Hudam sangat tersembunyi, sehingga pengunjung harus bertanya kepada masyarakat setempat karena tidak ada penunjuk jalan. Program Visit Aceh 2011 yang digaungkan Pemerintah Aceh ternyata tidak didukung dengan perbaikan infrastruktur.


more:http://toelank.wordpress.com/2013/07/26/fenomena-aneh-awan-berbentuk-payudara-gegerkan-warga/
Read Post | ulasan

Mengenal Malik Mahmud, Sang Pemangku Wali

Ahad, 13 Januari 2013


Mengenal Malik Mahmud, Sang Pemangku Wali 

Melanjutkan tulisan kemarin tentang sosok Sang Pemangku Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al Haythar, yang misterius dan tertutup serta keunggulannya dalam menjalin dan memelihara kerjasama dan hubungan dengan “dunia bawah tanah” Singapura, pembahasan kali ini akan mendeskripsikan kelihaian Malik Mahmud sebagai seorang yang lihai dalam memanfaatkan peluang “kekosongan” sejarah Aceh dalam mendukung langkah dan gerakan yang dilakukan oleh Hasan Tiro dalam memerdekakan Aceh.

Tahun 2002, adalah tahun penting bagi Malik Mahmud setelah perjalanan panjang yang ia lakukan bersama Hasan Tiro sejak mengenalnya tahun 1964. Tahun itu, adalah tahun penetapan sekaligus pengukuhan dirinya sebagai Perdana Menteri GAM sekaligus Pemangku Wali Nanggroe dalam rapat rahasia yang dihadiri secara terbatas oleh para kombatan GAM di luar negeri. Rapat rahasia itu dilaksanakan di Stavanger Norwegia atas inisiatif Malik Mahmud dalam upayanya menetapkan posisi dan kedudukan para elit GAM kala itu sekaligus sebagai usaha untuk tidak kehilangan reputasi di tengah perlawanan keras yang dilakukan oleh para pejuang GAM di Aceh yang sangat berwibawa saat itu yaitu Tengku Abdullah Syafei. Pemangku Wali sendiri dapat diartikan sebagai pelaksana tugas-tugas Wali Nanggroe apabila sang wali berhalangan sementara ataupun tetap. Namun demikian, muncul pertanyaan, apakah pengukuhan tersebut merupakan kehendak rakyat Aceh seluruhnya? Apakah pengukuhan tersebut semata-mata merupakan strategi menuju ke puncak kekuasaan Aceh dengan mengabaikan peranan Kesultanan Aceh yang sesungguhnya?

Sejarah mencatat, bahwa sejatinya wali nanggroe telah ada semasa Kesultanan Aceh di masa penjajahan Belanda yaitu Tuanku Hasyim Banta Muda, Syaikh Abdur Rauf al-Singkili yang pernah mewakili kerajaan Aceh. Kesultanan Aceh sendiri berawal dari kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah (1500-1530) hingga Sultan Muhammad Dawud Syah (1874-1903). Namun demikian, dengan berlandaskan buku yang dikeluarkan oleh Parlemen Inggris, New Birth of Freedom tahun 1992, Hasan Tiro mengaku sebagai keturunan dan penguasa kesultanan Aceh yang ke-41 yaitu sejak tahun 1976. Ini adalah hal yang sungguh aneh di tengah para keturunan langsung Sultan dan Wali Nanggroe Aceh Darusalam yang terikat oleh sejarah dan tradisi kesultanan Aceh melihat kedudukan Hasan Tiro maupun Malik Mahmud sebagai tokoh yang memanipulasi sejarah Aceh untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

Dalam diskusi Panteue yang turut dihadiri Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja Ibarim sebagai cucu Sultan Alaidin Muhammad Dawud Syah (Sultan Aceh yang terakhir), juga hadir cucu Wali Nangroe Tuanku Hasyim Banta Muda, Adli Abdullah tanggal 12 Desember 2010 di Lampriet Banda Aceh, menurut Adli bahwa dalam daftar Piagam Bate Kureng, SAMA SEKALI TIDAK ADA NAMA Tgk. Hasan Tiro, kecuali Tengku Zainal Abidin Muhammad Tiro dan Tengku Umar Tiro.

Selanjutnya, simbol kerajaan dan pemerintahan Aceh berupa cap Sikureng yang pernah diberikan kepada Tgk Chik di Tiro, setelah sepeninggal beliau pada tahun 1891, telah diserahkan kepada Habib Samalanga (Reid, 2005:275). Melihat symbol kerajaan yang dipegang oleh Habib tersebut, apakah keturunan habib itu juga berhak atas gelar Wali Nanggroe?

Melihat penelusuran sejarah singkat di atas tentang Wali Nanggroe, tentunya terbentuk pemahaman, siapa sebenarnya Hasan Tiro dan apa yang melandasi penunjukan Malik Mahmud sebagai Pemangku Wali Nanggroe untuk menduduki sebuah jabatan yang memiliki nilai-nilai kultur dan sejarah Keacehan yang sangat tinggi dan tak ternilai?

Disinilah letak kelihaian Malik Mahmud dalam merencanakan dan memanipulasi sejarah Aceh yang terputus karena didera konflik selama puluhan tahun. Malik Mahmud tampaknya menyadari posisinya yang sangat lemah dalam silsilah kesultanan Aceh sehingga merekayasa pertemuan rahasia Sigom Donya di Stavanger sebagai upayanya dalam mengukuhkan kedudukannya andaikan Hasan Tiro tiada. Hal ini sama dengan ketika marsekal Perancis Jean Baptiste Bernadotte menggantikan Raja Swedia Carl XIII yang tidak memiliki putra mahkota. Dengan musyawarah kerajaan yang diinisiasi oleh Bernadotte, maka mau tak mau dalam musyawarah tersebut menunjuk Bernadotte sebagai Raja Swedia pada tahun 1810.

Bisa dikatakan, apa yang dilakukan oleh Malik Mahmud dan mendiang Hasan Tiro dalam rapat Stavanger tersebut adalah Coup D etat atas sejarah dan nilai-nilai kultur serta budaya Aceh maupun pengkhianatan terhadap kejayaan Kesultanan Aceh masa lalu. Semuanya dilakukan bukan karena dilandasi oleh niat yang tulus dan ikhlas dalam mensejahterakan rakyat Aceh atau bahkan memerdekakannya, namun lebih karena nafsu kekuasaan.
continous....
Mengenal Malik Mahmud, Sang Pemangku Wali

Melanjutkan tulisan kemarin tentang sosok Sang Pemangku Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al Haythar, yang misterius dan tertutup serta keunggulannya dalam menjalin dan memelihara kerjasama dan hubungan dengan “dunia bawah tanah” Singapura, pembahasan kali ini akan mendeskripsikan kelihaian Malik Mahmud sebagai seorang yang lihai dalam memanfaatkan peluang “kekosongan” sejarah Aceh dalam mendukung langkah dan gerakan yang dilakukan oleh Hasan Tiro dalam memerdekakan Aceh.

Tahun 2002, adalah tahun penting bagi Malik Mahmud setelah perjalanan panjang yang ia lakukan bersama Hasan Tiro sejak mengenalnya tahun 1964. Tahun itu, adalah tahun penetapan sekaligus pengukuhan dirinya sebagai Perdana Menteri GAM sekaligus Pemangku Wali Nanggroe dalam rapat rahasia yang dihadiri secara terbatas oleh para kombatan GAM di luar negeri. Rapat rahasia itu dilaksanakan di Stavanger Norwegia atas inisiatif Malik Mahmud dalam upayanya menetapkan posisi dan kedudukan para elit GAM kala itu sekaligus sebagai usaha untuk tidak kehilangan reputasi di tengah perlawanan keras yang dilakukan oleh para pejuang GAM di Aceh yang sangat berwibawa saat itu yaitu Tengku Abdullah Syafei. Pemangku Wali sendiri dapat diartikan sebagai pelaksana tugas-tugas Wali Nanggroe apabila sang wali berhalangan sementara ataupun tetap. Namun demikian, muncul pertanyaan, apakah pengukuhan tersebut merupakan kehendak rakyat Aceh seluruhnya? Apakah pengukuhan tersebut semata-mata merupakan strategi menuju ke puncak kekuasaan Aceh dengan mengabaikan peranan Kesultanan Aceh yang sesungguhnya?

Sejarah mencatat, bahwa sejatinya wali nanggroe telah ada semasa Kesultanan Aceh di masa penjajahan Belanda yaitu Tuanku Hasyim Banta Muda, Syaikh Abdur Rauf al-Singkili yang pernah mewakili kerajaan Aceh. Kesultanan Aceh sendiri berawal dari kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah (1500-1530) hingga Sultan Muhammad Dawud Syah (1874-1903). Namun demikian, dengan berlandaskan buku yang dikeluarkan oleh Parlemen Inggris, New Birth of Freedom tahun 1992, Hasan Tiro mengaku sebagai keturunan dan penguasa kesultanan Aceh yang ke-41 yaitu sejak tahun 1976. Ini adalah hal yang sungguh aneh di tengah para keturunan langsung Sultan dan Wali Nanggroe Aceh Darusalam yang terikat oleh sejarah dan tradisi kesultanan Aceh melihat kedudukan Hasan Tiro maupun Malik Mahmud sebagai tokoh yang memanipulasi sejarah Aceh untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

Dalam diskusi Panteue yang turut dihadiri Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja Ibarim sebagai cucu Sultan Alaidin Muhammad Dawud Syah (Sultan Aceh yang terakhir), juga hadir cucu Wali Nangroe Tuanku Hasyim Banta Muda, Adli Abdullah tanggal 12 Desember 2010 di Lampriet Banda Aceh, menurut Adli bahwa dalam daftar Piagam Bate Kureng, SAMA SEKALI TIDAK ADA NAMA Tgk. Hasan Tiro, kecuali Tengku Zainal Abidin Muhammad Tiro dan Tengku Umar Tiro.

Selanjutnya, simbol kerajaan dan pemerintahan Aceh berupa cap Sikureng yang pernah diberikan kepada Tgk Chik di Tiro, setelah sepeninggal beliau pada tahun 1891, telah diserahkan kepada Habib Samalanga (Reid, 2005:275). Melihat symbol kerajaan yang dipegang oleh Habib tersebut, apakah keturunan habib itu juga berhak atas gelar Wali Nanggroe?

Melihat penelusuran sejarah singkat di atas tentang Wali Nanggroe, tentunya terbentuk pemahaman, siapa sebenarnya Hasan Tiro dan apa yang melandasi penunjukan Malik Mahmud sebagai Pemangku Wali Nanggroe untuk menduduki sebuah jabatan yang memiliki nilai-nilai kultur dan sejarah Keacehan yang sangat tinggi dan tak ternilai?

Disinilah letak kelihaian Malik Mahmud dalam merencanakan dan memanipulasi sejarah Aceh yang terputus karena didera konflik selama puluhan tahun. Malik Mahmud tampaknya menyadari posisinya yang sangat lemah dalam silsilah kesultanan Aceh sehingga merekayasa pertemuan rahasia Sigom Donya di Stavanger sebagai upayanya dalam mengukuhkan kedudukannya andaikan Hasan Tiro tiada. Hal ini sama dengan ketika marsekal Perancis Jean Baptiste Bernadotte menggantikan Raja Swedia Carl XIII yang tidak memiliki putra mahkota. Dengan musyawarah kerajaan yang diinisiasi oleh Bernadotte, maka mau tak mau dalam musyawarah tersebut menunjuk Bernadotte sebagai Raja Swedia pada tahun 1810.

Bisa dikatakan, apa yang dilakukan oleh Malik Mahmud dan mendiang Hasan Tiro dalam rapat Stavanger tersebut adalah Coup D etat atas sejarah dan nilai-nilai kultur serta budaya Aceh maupun pengkhianatan terhadap kejayaan Kesultanan Aceh masa lalu. Semuanya dilakukan bukan karena dilandasi oleh niat yang tulus dan ikhlas dalam mensejahterakan rakyat Aceh atau bahkan memerdekakannya, namun lebih karena nafsu kekuasaan.
continous....
Read Post | ulasan

Kisah Cinta dalam Perang Sabil Aceh

Ahad, 30 Disember 2012

(Diangkat dari Peristiwa Perang Aceh, “Tak Ingin Bidadari...”) *Oleh Sayf Muhammad Isa (* Akan kuceritakan kepadamu sebuah riwayat penuh pesona, tentang cinta. Ketika itu Pelabuhan Ulee Lheu bersemu emas senja. Matahari dihisap lautan dan kian menghilang. Pelabuhan yang ramai di Banda Aceh itu mulai ditinggalkan orang-orang yang kelelahan bekerja seharian. Semenjak zaman Sultan Iskandar Muda pelabuhan itu sudah menjadi tempat berniaga orang-orang dari banyak negara. Hingga hari itu, di abad ke-19, saat bencana terus merayap, perlahan tapi pasti, hendak menghancurleburkan tanah Aceh. Di Pantai Ceureumen, tak jauh dari pelabuhan, duduklah dua orang pemuda yang bernama Syarif dan Husin. Sore itu keringat bercucuran di sekujur tubuh mereka sebagaimana biasa, sebab mereka adalah kuli di pelabuhan yang ramai itu. Butiran pasir pantai mengusap-usap hidup mereka yang getir. Mereka miskin, yatim piatu, sebatang kara, namun itu semua tak kuasa mengusir senyum dari wajah mereka, dan hidup mengalir dengan kesyukuran untuk semua yang telah dianugerahkan Tuhan. Angin membelai wajah mereka yang masih muda, yang teguh tegar dipukul nasib. Dan melepas penat dalam senja di Pantai Ceureumen menjadi kekayaan teragung bagi mereka, yang lebih berharga dari harta sepenuh dunia. “Lihatlah itu, Husin,” telunjuk Syarif teracung, menunjuk kepada sesuatu di tengah lautan.“Kapal-kapal Belanda itu sudah tiga hari mengapung di situ. Tak bergerak sama sekali. Apa yang sebenarnya mereka mau?” “Memang agak aneh juga,” sahut Husin. Matanya menatap kepada bendera tiga warna Belanda yang berkibar di tiang kapal itu. “Tapi biarkan sajalah, yang penting mereka tidak mengganggu kita.” “Dari kabar-kabar yang kudengar ada utusan Belanda yang menghadap Sultan. Hendak membuat perjanjian.” “Aku rasa tentang persoalan perbatasan dengan wilayah-wilayah di selatan yang kabarnya sudah banyak yang berada di bawah penguasaan Belanda.” “Mereka seenaknya saja mencaplok wilayah-wilayah Aceh.” “Semoga semuanya baik-baik saja,” Husin menatap wajah sahabatnya lalu tersenyum. “Bagaimana perasaanmu? Pernikahanmu tak lama lagi!” “Ah, tak tahulah, Husin,” sahut Syarif. Ia tersenyum tipis. Matanya tetap kepada kapal-kapal Belanda yang teguh itu. “Semua perasaan campur aduk menjadi satu.” “Tapi kau senang kaaan?” Husin tersenyum lebar, ia menyikut bahu Syarif. “Saking senangnya aku melihatmu bekerja keras seperti orang gila. Bisa-bisa remuk tangan dan kakimu itu memanggul peti-peti lada kalau tak beristirahat.” “Aku harus melakukan itu, aku ingin membahagiakan istriku kelak. Aku ingin mencukupinya.” Husin tersenyum bahagia, larut dalam kebahagiaan sahabatnya. “Selepas kau menikah nanti, aku akan pindah. Kau berbahagialah berdua dengan istrimu.” Syarif terkejut mendengar kata-kata sahabatnya, ia menatap heran kepada Husin. “Apa yang kau bilang itu? Kau saudaraku, kita tetap akan bersama apapun yang terjadi. Dengan aku menikah bukan berarti kau harus pergi.” “Aku hanya ingin kau bahagia,” Husin masih tersenyum, “Kau pasti ingin berdua saja dengan istrimu.” “Aku tak bahagia kalau kau pergi,” Syarif melotot kepada Husin. “Dan jangan pernah bicara begitu lagi.” Husin menunduk dan terus tersenyum. “Terima kasih banyak. Kau selalu menolongku semenjak kita bertemu tiga tahun yang lalu.” Dan angan-angannya mengembara saat Syarif menolongnya dari serangan seekor harimau yang berhasil melukai kakinya. Syarif merawatnya, dan sejak itu ia tinggal di gubug Syarif di kampung Lampadang [1]. Ketika itulah persahabatan mereka dimulai. “Aku ini sebatang kara. Tapi kemudian Allah memberiku saudara. Tak akan aku biarkan sesuatu yang buruk menimpa saudaraku itu. Kau telah menyelamatkan aku dari kesendirian. Terima kasih banyak.” “Hei, maukah kau menolongku sekali lagi?” Husin berseri-seri. Ia mencolek pinggang Syarif. “Apa?” “Carikanlah aku seorang istri. Aku juga ingin beristri sepertimu.” “Hahahaha… Tenang saja, nanti Jamilah akan mencarikannya untukmu.” *** Pada sore yang sama di sisi lain Pantai Ceureumen berdirilah seorang perempuan muda seorang diri. Jamilah, nama perempuan itu. Pandangan matanya melayang menatap teguh kapal-kapal Belanda di lautan. Angin halus menelisik kain kerudung lusuhnya yang rapuh diterjang nasib. Ia sendirian di dunia ini, tak punya siapa-siapa lagi. Untuk hidupnya ia menjual kayu bakar di Pelabuhan Ulee Lheu. Sebuah gubug peninggalan orang tuanya di Lampadang menjadi tempatnya bernaung. Ketika itu angan-angannya melambung ke angkasa, kepada cinta. Ia bersyukur kepada Tuhan sebab telah menganugerahinya jodoh seorang pemuda yang baik hati, giat bekerja, dan taat beragama. Dan ia sungguh-sungguh mencintai pemuda itu. Pemuda yang tak lama lagi akan menikahinya, Syarif. Malam merayap sudah. Mengambang memayungi tanah Aceh. Gelap hitam berbayang-bayang, namun indah rupawan. Dan kedamaian jadi udara yang dihirup semua orang. Malam itu agak berbeda. Para lelaki di Lampadang ramai berkumpul di sebuah lapangan di hadapan meunasah [2]. Tangan-tangan mereka menggenggam obor yang kobaran apinya meliuk-liuk gemulai. Malam itulah semua orang akan mengetahui apakah kedamaian masih akan bertahan di tanah Aceh. Teuku Nanta Seutia [3], uleebalang [4] Enam Mukim [5], berwajah muram saja malam itu. Ia duduk di punggung kudanya, menatap wajah-wajah keras rakyatnya yang menunggu. Sebab kabar yang dibawanya lebih hitam dari kematian. “Assalamu’alaikum,” ia memulai dalam suara gemetar, dan semua orang bergumam menjawabnya. “Aku menyerukan kepada saudara-saudara untuk mempersiapkan diri. Tadi pagi utusan Belanda datang menghadap Sultan, menyampaikan sepucuk surat, dan telah nyata di dalam surat itu, Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Sebab Aceh tidak mau memenuhi apa yang mereka pinta.” Dengungan-dengungan tiba-tiba menyeruak dari kerumunan orang-orang Lampadang itu. Mereka tenggelam dalam keterkejutan yang mematikan. Jantung-jantung berdetak lebih cepat, napas naik ke tenggorokan. Mereka saling bicara satu sama lain tentang berita dari Teuku Nanta. Teuku Nanta mengangkat tangan kanannya penuh wibawa. Dalam sekejap keributan itu mereda, semua orang kembali memerhatikan Teuku Nanta. “Mengapa kita menolak? Sebab kaum penjajah hendak merampas Aceh. Hendak merampas negeri kita. Hendak merampas kemerdekaan kita. Hendak merampok harta benda tanah kita. Mereka hendak menjajah.” Teuku Nanta mencabut rencong [6] yang tersemat di perutnya. Ia mengacungkannya tinggi menusuk langit malam. “Allah dan RasulNya memerintahkan kita untuk melawan sekuat tenaga apabila kaum penjajah datang hendak merampas tanah kita. Mereka telah menyatakan perang, dan kewajiban kitalah untuk mengobarkan Perang Sabil [7] demi melawan mereka. Jangan ragu! Jangan takut! Bagi orang-orang yang ikhlas berjuang Allah akan menghadiahinya surga. Yang di muka pintunya berdiri bidadari-bidadari, mereka menunggu suami dari Perang Sabil.” “ALLAAAAAHU AKBAR,” Teuku Nanta memekik. Dan takbir berkumandang merobek malam. Berhamburan ia dari mulut orang-orang yang teguh yang detik itu juga telah menggadaikan nyawa mereka demi membela negeri, memenuhi amanah Tuhan mereka untuk melawan penjajah. “Pulanglah! Persiapkanlah diri dan senjata!. Besok subuh datanglah ke Pantai Ceureumen, sebab Belanda akan menyerbu dari sana. Sesungguhnya Allah bersama kita. ALLAAAAAHU AKBAR.” Dan gegap gempita memenuhi malam. Di tengah-tengah hiruk-pikuk dan kerumunan orang-orang Lampadang itu Syarif mengernyit menatap Teuku Nanta. Mulutnya tak mau berkata apa-apa. Husin hanya menekur saja. Mereka terkejut alang-kepalang, ternyata kapal-kapal Belanda yang mengapung di mulut Pantai Ceureumen membawa kabar perang. Tiba-tiba Syarif menepuk bahu Husin dan berbisik kepadanya. “Mari pergi.” Mereka berdua melangkah cepat, batang obor getir mereka genggam, nyala apinya menerangi langkah mereka. “Antarkan aku ke rumah Jamilah,” kata Syarif. Husin mengangguk tanpa bicara apa-apa, mereka terus melangkah, tergesa-gesa. Gubug itu berdiri rapuh. Sebatang obor menyala di ambang pintunya. Syarif dan Husin telah berdiri tegak di sana. “Assalamu’alaikum,” Syarif mengetuk pintu. Tak ada jawaban. Ia mengulang salam dan mengetuk lagi, tetap tak ada jawaban. Ia mengucap salam yang ketiga, mengetuk makin keras, tapi tetap tak ada jawaban. “Kemana perginya Jamilah?” Husin hanya menggeleng. Tiba-tiba mereka mendengar suara salam di belakang mereka. Suara salam seorang perempuan. Mereka menoleh, dan berdirilah Jamilah di sana sambil menenteng obor. Garis wajahnya yang cantik menyiratkan kegalauan. Sorot mata indahnya mengandung kekhawatiran. “Jamilah, kemasi pakaianmu sekarang juga, kita pergi dari sini. Belanda telah menyatakan perang tadi pagi. Cepatlah, tak ada waktu lagi” Syarif tergesa-gesa. Kata-katanya berhamburan begitu saja dari mulutnya. Namun Jamilah diam saja, tak beranjak sama sekali dari tempatnya berdiri. Matanya menatap getir kepada Syarif. Bibirnya gemetar menahan perasaan. Ia telah tahu apa yang terjadi, jauh sebelum Syarif mengatakannya. “Aku telah tahu, Cutbang [8],” suara Jamilah bergetar. “Cut Nyak Din [9] menceritakannya kepadaku.” Syarif makin tergesa-gesa. “Kalau kau telah tahu berarti kau telah berkemas! Kalau begitu cepatlah, kita berangkat sekarang juga.” Sorot mata Jamilah makin getir. Air mukanya keruh, menggambarkan berat beban yang ditanggung jiwanya. Ia menunduk, dadanya berguncang keras, hancur berantakan dihantam lara. Kelopak matanya sudah tak sanggup lagi membendung cairan hangat yang suci itu. Ia menangis, berlinanglah air matanya membasuh wajahnya. Alis Syarif mengerut, Husin diam saja. “Sabarlah, kita pergi dari sini, kemasi pakaianmu,” Syarif terus mendesak. “Cepatlah!” Jamilah mengangkat tangannya, menghapus air matanya. Ia menegakkan wajahnya, tersenyum kepada Syarif. Dan dalam kegelapan, dalam keremangan cahaya obor, terlihatlah betapa cantiknya Jamilah. Dan kecantikan itu baru pertama kali disaksikan Syarif. “Pulanglah, Cutbang,” kata Jamilah lirih. “Bersiaplah! Pergilah berperang!” Seribu pedang seakan-akan mencabik-cabik jantung Syarif ketika mendengar kata-kata Jamilah. Alisnya bertaut tak mengerti. “Apa yang kau bilang itu? Akan pecah perang di Aceh, kita harus pergi dari sini, secepatnya. Cepat kemasi pakaianmu.” “Tidak, Cutbang! Pulanglah! Kau harus berangkat berperang.” “Kenapa kau ini, Jamilah? Kita akan menikah tak lama lagi, kita harus pergi dari sini.” Air mata Jamilah berlinang lagi. Ia sesenggukan, kepalanya menggeleng perlahan. “Aku tahu itu! Tapi penjajah hendak merampas Aceh, kewajiban kitalah membelanya.” “Demi Allah aku mencintaimu, Jamilah. Aku ingin menikahimu, sebab itu kita harus pegi dari sini.” Dalam derai air mata itu terkembanglah senyum yang aneh di wajah Jamilah. “Aku pun mencintaimu, tapi aku tidak lebih berharga dari tanah Aceh. Belalah negeri ini, Cutbang, berperanglah. Jangan pikirkan lagi pernikahan kita, aku ikhlas. Dan aku akan bangga kepadamu, sebab aku telah mencintai laki-laki yang tepat.” “Mengapa begini kau bicara? Aku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, hanya dirimu! Aku mohon pergilah bersamaku, Jamilah. Aku mencintaimu… aku tak punya siapa-siapa.” Air mata Syarif telah berderai. Kakinya lemas, ia jatuh berlutut, wajahnya menunduk kepada tanah. “Aku ingin bahagia… aku ingin bahagia bersamamu.” “Tak ada lagi tempat bagi kita kalau penjajah telah merampas tanah kita. Kita tak bisa pergi kemana-mana, sebab mereka telah menebarkan kezaliman. Walaupun kita menikah, tak akan ada lagi kebahagiaan bersama kita kalau penjajah telah tegak di halaman rumah kita. Karena aku mencintaimu, semua ini aku pinta darimu.” Saat kata-kata itu keluar dari mulut Jamilah air mata makin deras berderai di pipinya. Kakinya gemetar. Taufan badai berkecamuk di dalam hatinya tatkala keputusan untuk mengatakan itu diambilnya. Sebenarnya ia tak sanggup, tapi ia kuatkan hatinya sekuat-kuatnya. “Aku mencintaimu, karena itu berangkatlah berperang, Cutbang!” Syarif menangis terisak-isak, punggungnya berguncang. Ia menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya. Jamilah meniup obor di genggamannya. Ia berjalan gontai, hatinya remuk dihancurkan nerstapa. Ia melangkah masuk ke dalam gubugnya, menutup pintu, dan menguncinya. Di dalam ia menangis sejadi-jadinya. Husin yang diam saja dari tadi melangkah mendekati sahabatnya. Ia menggamit bahu Syarif dan membangunkannya. Mereka melangkah pulang. Sesampainya di gubug mereka bermenunglah mereka. Diam sejuta bahasa. Lewat tengah malam Husin angkat bicara. “Maafkan aku, Saudara,” kata Husin terbata-bata, “Aku akan berangkat berperang. Aku ingin beristri seorang bidadari.” Belum tuntas guncangan karena Jamilah di kepala Syarif, sekarang Husin malah menambah-nambahnya. Ia membelalak kepada Husin. “Sekarang kau pun bicara begini. Kau ingin meninggalkan aku? Kita pergi dari sini, jauh dari sini, agar Belanda jahanam itu tak bisa mengganggu kita.” “Aku pun berpikir begitu tadinya. Tapi sungguh aku bangga kepada Jamilah. Ia mengajarkan aku tentang cinta. Begitulah cinta, Syarif, cinta itu kebesaran jiwa. Kewajiban kita adalah saling mencintai, bukan saling memiliki. Setiap kita adalah milik Allah, kalau Allah ingin mengambilnya kembali kita hanya bisa ikhlas menerimanya. Sekarang Allah menguji kita dengan mendatangkan Belanda yang hendak menjajah tanah kita, apakah kita bisa melaksanakan perintahNya untuk membela Aceh?” “Ya Allah…ya Rabbi,” Syarif menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Ia terbenam di kursinya. “Mari kita berjuang bersama, Syarif,” Husin berdiri dan mendekati Syarif, ia penuh semangat. “Tidakkah kau menginginkan bidadari?” “Aku tak butuh bidadari,” sahut Syarif ketus. “Astagfirullahal’azim,” Husin menggeleng, “Sampai hati kau bicara begitu, Allah bisa murka kepadamu.” “Aku ingin hidup bahagia bersama Jamilah, apakah aku tak bisa mendapatkannya?” Nada suara Syarif mulai tinggi. “Apakah kau tidak memahaminya, Saudara?” Raut wajah Husin berubah getir. Ia tak menyangka apa yang terjadi pada sahabatnya. “Sebenarnya Tuhan ingin menganugerahi kebahagiaan yang lebih besar untukmu. Dan Jamilah tahu itu, karenanyalah dia meminta semua itu kepadamu.” Husin melangkah ke kamar, mengambil pedang, lalu berdiri dengan gagah di hadapan sahabatnya. “Aku bangga mengenalmu, dan menjadi saudaramu. Pikirkanlah semua yang telah terjadi, semoga Allah menunjuki dirimu. Mohon maafkan aku. Terima kasih banyak. Aku pamit.” Husin mengucap salam dan melangkah cepat keluar gubug itu. Tinggallah Syarif sendirian dalam gundah gulana yang segelap malam. Mulutnya sudah tak mau bicara, hanya air matanya yang berurai tiada henti. Dalam semalam, ia telah kehilangan segalanya. *** Rasa kantuk telah mati. Syarif tak tidur semalaman. Alam pikirannya berseliweran tak henti-henti, membayang-bayang di hadapan pelupuk matanya. Matahari baru naik sepenggalahan, sunyi merawankan. Suara ledakan tiba-tiba terdengar, jauh dan dalam. Serangan Belanda rupa-rupanya telah dimulai. Semua gambaran mengerikan terpampang jelas. Dan baur terusir pergi tidak peduli. Jantung Syarif berdetak lebih kencang, pelipisnya berdenyut-denyut, kepalanya pening. Napasnya memburu, dan realitas di tempurung kepalanya berat menggantung. Ia ragu-ragu. Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari pintu gubugnya. Ia melangkah gontai, dan membuka pintunya, terbelalaklah matanya. Dua orang prajurit berdiri diam membisu. Di antara mereka ada usungan, dan Husin terbaring tak bernyawa di dalamnya. Tubuhnya telah dilapisi baju zirah yang berdarah-darah. Matanya telah tertutup sampai ke akhir dunia. “Husin meminta semua ini sebelum ia syahid. Ia mau kaulah yang menguburkan jenazahnya,” kata salah seorang prajurit itu. Kemudian mereka mengucap salam dan pergi. Dalam sunyi berlinanglah lagi air mata di pipi lelaki itu. Ia melangkah mendekati mayat saudaranya. Tubuh suci pejuang itu dibasuh air mata. Syarif berlutut di dekat mayat Husin, dan doa-doa lirih melayang-layang, menguap ke angkasa raya, terbang ke hadirat Tuhan. “Bahagianya dirimu,” bisik Syarif, “Kenalkan aku pada istrimu yang cantik itu.” Syarif menggendong jenazah sahabatnya. Digalinya sebuah liang lahat di dekat gubug itu. Dikuburnya sahabatnya itu dalam kehormatan pakaian perang yang berlumuran darah. Harum, ikhlas tanpa cela. Selesai memakamkan sahabatnya ia berlari ke kamarnya, mengambil pedang, dan sebuah bungkusan kain berwarna kuning dari balik tempat tidurnya. Ia keluar dari sana dan berlari, tak sempat menutup pintu. Berlari, terus berlari. Tak henti. Tak lama kemudian sampailah ia di ambang pintu gubug Jamilah. Tangannya gemetar, diketuknya pintu itu, dan diucapkannya salam. Tak harus menunggu lama, Jamilah membukakannya, dan ia tegak di ambang pintu. Syarif menatap kepedihan. Wajah Jamilah telah redup. Matanya sembab, ada bayangan hitam di pelupuknya, tanda bahwa ia mencucurkan air mata semalaman. Namun di tengah-tengah kepedihan Jamilah masih sudi mempersembahkan senyum bagi lelaki yang dicintainya itu. Suara dentum ledakan samar-samar di telinga mereka. Hati meracau, dan hidup penuh galau. Sepasang pencinta itu berhadap-hadapan, membisu beberapa detik sebab jiwa menggelora. Apa yang harus mereka ucapkan, yang mereka tahu hanya kata cinta. Dan mereka hanya diam, ingin menyelami seberapa dalam hati mereka. Syarif merogoh saku celananya, mengambil bungkusan kain berwarna kuning itu. Dibukanya ikatannya, dan ia sodorkan bungkusan itu kepada Jamilah dengan kedua belah tangannya. Jamilah terkejut, ia mendekap mulutnya. Isi bungkusan itu adalah sebuah gelang emas. Hanya sebuah. “Ini jeulamee [10] untukmu,” kata Syarif, “Terimalah, aku dapatkan ini dengan susah payah hanya untukmu.” Jamilah ragu, tapi ia layangkan juga tangannya untuk mengambil benda itu dengan gemetar. Ia dekap gelang itu di dadanya, dan hatinya menguapkan puji-pujian hanya kepada Tuhan. Air matanya telah berlinang. Beberapa detik berlalu mereka hanya diam. Tak kuasa berkata apa-apa. Suara dentuman sayup-sayup terdengar lagi. Membuyarkan angan-angan mereka tentang keindahan pernikahan yang tak akan pernah terlaksana. Cinta mereka suci, namun tak kuasa mereka menyatukannya. “Aku akan berangkat berperang,” kata Syarif dengan gemetar, wajahnya menunduk menatap tanah, tak sanggup memandang wajah kekasihnya. “Aku mencintaimu, sungguh-sungguh mencintaimu. Aku tak ingin bidadari, aku hanya menginginkanmu. Jaga dirimu baik-baik.” Syarif berbalik dan melangkah cepat meninggalkan kekasihnya. Ia berlari sambil menenteng pedang di tangan kanannya. Jiwanya menggelora, ia menangis. Tapi belum jauh ia berlari, langkahnya telah terhenti. “Cutbang, tungguuuu,” Jamilah memanggil. Syarif menoleh ke belakang, ia melihat Jamilah masuk ke dalam gubugnya. Beberapa detik kemudian ia keluar lagi dengan menenteng pedang. Ia berlari mendekati Syarif. Gelang emas itu tetap didekapnya di dadanya. Jamilah menatap dalam-dalam mata kekasihnya itu, “Demi Allah aku mencintaimu, Cutbang. Aku ingin bahagia bersamamu. Ingin sekali.” Ledakan-ledakan terdengar lagi. Dentuman senjata membahana sunyi. Rentetan peluru tak putus-putus. Jauh dan sabar, sendu dan pilu. Senyum merekah di wajah Syarif. “Aku tak ingin bidadari, aku hanya ingin dirimu. Perang Sabil menunggu kita, mari berangkat.” Mereka berjalan cepat, bersisian. Pedang kokoh dalam genggaman masing-masing. Pandangan mereka lurus ke depan, menatap perjuangan yang jadi amanah Tuhan. Baru kali itu senyum merekah di bibir mereka berdua, bersama-sama. Gelang emas teguh dalam dekapan Jamilah, seteguh Syarif mendekap cintanya. Mereka bertempur bersama-sama dalam Perang Sabil. Menggadaikan cinta mereka demi perjuangan, dalam kebesaran jiwa, dalam keikhlasan, dalam cinta. Dan berbahagialah mereka selamanya dengan cinta mereka. Tuhan sendiri yang menikahkan mereka. Para malaikat menjadi saksi-saksinya. Bidadari-bidadari jadi pengiring-pengiringnya. Seisi surga berbahagia…
Read Post | ulasan
 
© Copyright Atjeh-Online 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all